Bahan tambahan pangan (BTP) adalah suatu zat atau bahan yang sengaja di tambahkan saat pembuatan pangan untuk mendapatkan hasil karakteristik tertentu sesuai dengan yang diinginkan. Salah satu tujuan pengguna BTP adalah untuk membuat makanan menjadi lebih awet dan juga memberikan bentuk, rasa, dan bau yang lebih menyenangkan.
Jenis- Jenis BTP :
Jenis BTP yang sering terdapat pada produk makanan atau digunakan dalam mengolah makanan berdasarkan kegunaannya,
dibedakan menjadi 11 golongan yaitu :
1. Pewarna, untuk memperbaiki atau memberi warna pada makanan atau minuman.
Contoh pewarna : karmin, klorofil, tartrazin, karotein.
2. Pengawet, untuk mencegah atau menghambat tumbuhnya bakteri sehingga tidak terjadi pembusukan, pengasaman, atau peruraian makanan.
Contoh pengawet : asam benzoate dan nitrit.
3. Pemanis buatan, untuk memberikan rasa manis atau dapat mempertajam penerimaan lidah terhadap rasa manis.
Contoh pemanis buatan : sakarin dan siklamat.
4. Penyedap rasa dan aroma (flavour), untuk menambah rasa dan aroma makanan,
contohnya : essense. Penguat rasa (flavour enhancer),untuk mempertegas rasa dan aroma makanan, contohnya monosodium glutamate.
5. Antioksidan, untuk mencegah atau menghambat oksidasi misalnya ketengikan pada minyak goreng. Contoh antioksidan, asam askorbat, BHA dan BHT.
6. Anti kempal, untuk mencegah penggumpalan pada bahan makanan berbentuk tepung atau butiran yang menyerap air. Contoh anti kempal : magnesium karbonat, kalsium silikat.
7. Pengatur keasaman, untuk mengasamkan, menetralkan dan mempertahankan derajat keasaman makanan yang terdiri dari pengasaman, penetral, dan pendapar. Pengasaman sering digunakan juga untuk penyedap rasa dan aroma serta dapat mencegah sisa rasa asam yang tidak disukai atau mempertahankan derajat keasaman pada bahan makanan, contoh: asam sitrat, asam fosfat. Penetral digunakan untuk menurunkan derajat keasaman makanan. Dapat digunakan untuk membuat makanan supaya tidak terlalu asam atau basa,contoh :kalsium glukonat.
8. Pemutih atau pematang tepung untuk meningkatkan daya kembang pada tepung serta mematangkan tepung serta memperbaiki mutu pemanggangan. Contoh : Natrium stearoil-2-laktilat.
9. Pengeras, untuk memperkeras atau mempertahankan jaringan buah dan sayuran atau berinteraksi dengan bahan pembentuk gel untuk memperkuat gel, biasanya diberikan pada buah-buahan, sayur acar, asinan, dan lain-lain. Contohnya :Kalsium glukonat.
10.Pengemulsi, pengental dan penstabil, untuk membantu terbentuknya atau memantapkan sistem dispersi yang homogen pada makanan. Contoh: Natrium alginat.
11. Sekuestran, untuk mengikat ion logam yang ada dalam makanan.
Contoh : Dinatrium edetat.
Penjelasan Keluarga Sehat
Keluarga Sehat adalah keluarga yang berhasil mengelola kualitas yang sehat dan jasmani, rohani, pendidikan, dan ekonomi yang baik dengan keseimbangan yang baik pula. Kebanyakan keluarga saat ini hanya mementingkan satu dari empat faktor diatas, yaitu kesehatan jasmani saja, rohani saja, pendidikan saja, atau hanya ekonomi saja. Padahal ke empat faktor tersebut merupakan satu kesatuan yang saling berkait satu sama lain. Tidak bisa hanya mengedepankan satu faktor dan mengabaikan faktor – faktor lain. Seluruh faktor tersebut harus berjalan dengan beriringan.
Berikut ini beberapa langkah yang dapat mengoptimalkan terwujudnya keluarga yang sehat
1. Komunikasi Yang Baik
Komunikasi yang berjalan dengan baik adalah salah satu syarat yang wajib terdapat di dalam keluarga yang sehat. Tanpa komunikasi yang baik, maka tidak akan terwujud keluarga yang sehat.
Buruknya komunikasi di dalam lingkungan keluarga akan menjadi sumber bermunculnya berbagai permasalahan keluarga. Karena jalinan komunikasi yang buruk di dalam sebuah keluarga akan ada permasalahan-permasalahan kecil yang sebenarnya dapat dicegah atau diselesaikan dengan segera. Jangan biarkan menjadi berlarut-larut dan semakin membengkak, hingga akhirnya meledak seperti bom waktu.
Demikianlah mengapa komunikasi yang baik itu masuk menjadi salah satu daftar pembentuk keluarga sehat. Karena ia dapat menjadi sumber permasalahan besar, namun juga dapat menjadi penawar yang mujarab sejak dini jika dipelihara dengan baik.
2. Kebersamaan
"Kebersamaan", itulah yang banyak dilupakan oleh kebanyakan orangtua di masa yang serba moderen ini. Hal ini banyak terjadi pada keluarga yang orangtuanya senantiasa mengejar dan mengutamakan karir. Mereka merindukan kasih sayang orangtua, dan mereka haus nasehat yang baik, canda tawa bersama keluarga yang lengkap. Maka tidak heran jika akhirnya anak- anak terjerumus dalam jerat kemaksiatan, karena tidak memiliki tempat untuk membagi permasalahan mereka. Karena mereka tidak memiliki tempat untuk bercanda ataupun berlindung.juga keluhan penyakit yang dideritapun tidak sempat mereka ceritakan.
Dan yang paling penting kebersamaan dalam menjaga kebersihan,keamanan pangan,dan olah raga.
3. Canda
Keluarga yang sehat adalah keluarga yang hidup, bukan keluarga yang mati. Dan keluarga yang hidup adalah keluarga yang dipenuhi dengan canda dan tawa, menghilangkan kekakuan dan kecanggungan di antara anggota keluarga. Namun, menghilangkan kekakuan dan kecanggungan ini tidaklah sama dengan menghilangkan rasa hormat, tidak demikian.
Canda dan tawa, gurauan-gurauan kecil tanpa melewati batas kesopanan dan etika terhadap orang tua maupun terhadap sesama manusia harus dimiliki oleh sebuah keluarga yang menginginkan terwujudnya keluarga sehat.
Canda dan tawa ini sangat erat kaitannya dengan faktor komunikasi yang baik dan kebersamaan. Semakin baik tingkat komunikasi dan kebersamaannya dengan seluruh anggota keluarga, maka canda dan tawa pun akan dapat mengalir dengan alami.
4. Utamakan Kasih Sayang
Kasih sayang adalah kunci penting dalam menciptakan kehidupan yang harmonis dalam berbagai tingkatan, baik tingkat dunia, Negara, propinsi, kecamatan, kelurahan, RW, RT, dan bahkan dalam tingkat keluarga. Dengan kasih sayang, hilanglah segala bentuk dendam dan kebencian. Dengan kasih sayang, hilanglah segala bentuk peperangan. Dengan kasih sayang, timbullah sifat saling berkorban antar anggota keluarga. Bahasa yang penuh dengan kasih sayang dan kelembutan akan lebih mudah diserap dan dimengerti ketimbang bahasa yang penuh dengan emosi, dendam, dan benci. Bahasa kasih sayang akan lebih efektif untuk mencegah, meminimalisir, dan atau menyelesaikan suatu permasalahan.
5. Ekonomi
Faktor lain yang tidak boleh kita abaikan dalam membentuk keluarga sehat adalah faktor ekonomi. Meskipun bukan satu-satunya, namun ekonomi merupakan salah satu faktor utama yang harus senantiasa diperhatikan. Ekonomi merupakan salah satu faktor yang sangat sensitif dalam segala aspek kehidupan, termasuk kehidupan keluarga.
6. Pendidikan Yang Baik
Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa kualitas pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang memiliki peranan penting dalam pembentukan keluarga sehat. Karena pendidikan yang baik akan memberikan hasil pemikiran yang baik, membentuk anak-anak yang mampu berpikir ke depan dengan baik, dan menciptakan kepribadian yang baik. Pendidikan di sini tidak hanya sebatas pendidikan formal saja, namun juga pendidikan-pendidikan nonformal. Pendidikan yang diberikan oleh orang tua sejak anak dilahirkan akan turut menentukan pembentukan kepribadian anak tersebut.
Dengan pendidikan orang tua yang baik, maka anak akan tumbuh menjadi bunga yang akan menyebarkan keharuman di lingkungan keluarga dan masyarkat.
7. Syukur
Dan faktor terakhir yang wajib senantiasa mengiringi kehidupan rumah tangga dan senantiasa menghiasi ruh setiap anggota keluarga adalah adanya rasa syukur. Bersyukur atas segala sesuatu yang telah mereka dapatkan.
Berikut ini beberapa langkah yang dapat mengoptimalkan terwujudnya keluarga yang sehat
1. Komunikasi Yang Baik
Komunikasi yang berjalan dengan baik adalah salah satu syarat yang wajib terdapat di dalam keluarga yang sehat. Tanpa komunikasi yang baik, maka tidak akan terwujud keluarga yang sehat.
Buruknya komunikasi di dalam lingkungan keluarga akan menjadi sumber bermunculnya berbagai permasalahan keluarga. Karena jalinan komunikasi yang buruk di dalam sebuah keluarga akan ada permasalahan-permasalahan kecil yang sebenarnya dapat dicegah atau diselesaikan dengan segera. Jangan biarkan menjadi berlarut-larut dan semakin membengkak, hingga akhirnya meledak seperti bom waktu.
Demikianlah mengapa komunikasi yang baik itu masuk menjadi salah satu daftar pembentuk keluarga sehat. Karena ia dapat menjadi sumber permasalahan besar, namun juga dapat menjadi penawar yang mujarab sejak dini jika dipelihara dengan baik.
2. Kebersamaan
"Kebersamaan", itulah yang banyak dilupakan oleh kebanyakan orangtua di masa yang serba moderen ini. Hal ini banyak terjadi pada keluarga yang orangtuanya senantiasa mengejar dan mengutamakan karir. Mereka merindukan kasih sayang orangtua, dan mereka haus nasehat yang baik, canda tawa bersama keluarga yang lengkap. Maka tidak heran jika akhirnya anak- anak terjerumus dalam jerat kemaksiatan, karena tidak memiliki tempat untuk membagi permasalahan mereka. Karena mereka tidak memiliki tempat untuk bercanda ataupun berlindung.juga keluhan penyakit yang dideritapun tidak sempat mereka ceritakan.
Dan yang paling penting kebersamaan dalam menjaga kebersihan,keamanan pangan,dan olah raga.
3. Canda
Keluarga yang sehat adalah keluarga yang hidup, bukan keluarga yang mati. Dan keluarga yang hidup adalah keluarga yang dipenuhi dengan canda dan tawa, menghilangkan kekakuan dan kecanggungan di antara anggota keluarga. Namun, menghilangkan kekakuan dan kecanggungan ini tidaklah sama dengan menghilangkan rasa hormat, tidak demikian.
Canda dan tawa, gurauan-gurauan kecil tanpa melewati batas kesopanan dan etika terhadap orang tua maupun terhadap sesama manusia harus dimiliki oleh sebuah keluarga yang menginginkan terwujudnya keluarga sehat.
Canda dan tawa ini sangat erat kaitannya dengan faktor komunikasi yang baik dan kebersamaan. Semakin baik tingkat komunikasi dan kebersamaannya dengan seluruh anggota keluarga, maka canda dan tawa pun akan dapat mengalir dengan alami.
4. Utamakan Kasih Sayang
Kasih sayang adalah kunci penting dalam menciptakan kehidupan yang harmonis dalam berbagai tingkatan, baik tingkat dunia, Negara, propinsi, kecamatan, kelurahan, RW, RT, dan bahkan dalam tingkat keluarga. Dengan kasih sayang, hilanglah segala bentuk dendam dan kebencian. Dengan kasih sayang, hilanglah segala bentuk peperangan. Dengan kasih sayang, timbullah sifat saling berkorban antar anggota keluarga. Bahasa yang penuh dengan kasih sayang dan kelembutan akan lebih mudah diserap dan dimengerti ketimbang bahasa yang penuh dengan emosi, dendam, dan benci. Bahasa kasih sayang akan lebih efektif untuk mencegah, meminimalisir, dan atau menyelesaikan suatu permasalahan.
5. Ekonomi
Faktor lain yang tidak boleh kita abaikan dalam membentuk keluarga sehat adalah faktor ekonomi. Meskipun bukan satu-satunya, namun ekonomi merupakan salah satu faktor utama yang harus senantiasa diperhatikan. Ekonomi merupakan salah satu faktor yang sangat sensitif dalam segala aspek kehidupan, termasuk kehidupan keluarga.
6. Pendidikan Yang Baik
Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa kualitas pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang memiliki peranan penting dalam pembentukan keluarga sehat. Karena pendidikan yang baik akan memberikan hasil pemikiran yang baik, membentuk anak-anak yang mampu berpikir ke depan dengan baik, dan menciptakan kepribadian yang baik. Pendidikan di sini tidak hanya sebatas pendidikan formal saja, namun juga pendidikan-pendidikan nonformal. Pendidikan yang diberikan oleh orang tua sejak anak dilahirkan akan turut menentukan pembentukan kepribadian anak tersebut.
Dengan pendidikan orang tua yang baik, maka anak akan tumbuh menjadi bunga yang akan menyebarkan keharuman di lingkungan keluarga dan masyarkat.
7. Syukur
Dan faktor terakhir yang wajib senantiasa mengiringi kehidupan rumah tangga dan senantiasa menghiasi ruh setiap anggota keluarga adalah adanya rasa syukur. Bersyukur atas segala sesuatu yang telah mereka dapatkan.
Ibu Nifas
1. Apa saja yang dilakukan ibu nifas?
* Segera meneteki/menyusui bayi dalam 30 menit setelah bersalin untuk mencegah pendarahan dan merangsang ASI cepat keluar.
* Teteki/susui bayi sesering mungkin dan setiap kali bayi menginginkan.
* Rawat bayi baru lahir dengan baik.
* Tanyakan ke bidan/dokter cara meneteki secara eksklusif dan merawat bayi baru lahir.
Periksa kesehatan ibu nifas ke bidan/dokter sedikitnya 3 kali selama masa nifas.
2.Bagaimana menjaga kesehatan ibu nifas?
* Makan makanan bergizi 1 piring lebih banyak dari sebelum hamil.
* Istirahat cukup supaya ibu sehat dan ASI keluar banyak.
* Minum 1 kapsul Vit A warna merah (200.000 SI) diminum segera setelah melahirkan, 1 kapsul Vit A warna merah kedua (200.000 SI) diminum pada hari berikutnya minimal 24 jam se-sudah kapsul pertama.
* Minum 1 tablet tambah darah setiap hari selama nifas.
* Jaga kebersihan alat kelamin, ganti pembalut setiap kali basah.
3. Apa saja tanda-tanda bahaya dan penyakit pada ibu nifas?
* Pendarahan lewat jalan lahir.
* Keluar cairan berbau dari jalan lahir.
* Demam lebih dari 2 hari.
* Bengkak di muka, tangan atau kaki. Mungkin dengan sakit kepala dan kejang-kejang.
* Payudara bengkak kemerahan disertai rasa sakit.
* Mengalami gangguan jiwa.
Suami atau keluarga segera membawa ibu nifas ke bidan/dokter jika ada salah satu tanda-tanda di atas. Suami perlu mendampingi ibu nifas.
4. Mengapa setelah bersalin ibu perlu ikut program keluarga berencana (KB)?
* Agar ibu punya waktu untuk menyusui dan merawat bayi, menjaga kesehatan ibu serta mengurus keluarga.
* Untuk mengatur agar jarak kehamilan tidak terlalu dekat, lebih dari 2 (dua) tahun.
Konsultasi ke bidan/dokter dalam memilih cara KB yang paling sesuai dengan kondisi suami-isteri. Masa nifas merupakan saat yang paling tepat untuk ber-KB.
5. Apa saja alat kontrasepsi/cara ber-KB?
Alat Kontrasepsi/cara ber-KB bagi suami
- Kondom
Dipasang pada alat kelamin suami setiap kali melakukan hubungan seksual.
- Vasektomi
Saluran sperma diikat/dipotong melalui operasi kecil
Alat Kontrasepsi/cara ber-KB bagi istri
- Pil
Diminum 1 pil setiap hari secara teratur dan terus-menerus.
Selama ibu meneteki / menyusui, minum pil KB khusus.
- Suntik
Disuntikkan pada pantat/bokong sebelah kanan/kiri setiap 1 atau 3 bulan sekali tergantung jenis suntikan.
- Implan
Dipasang di lengan atas ibu.
- Spiral
Dipasang di dalam rahim 2 hari atau 6-8 minggu setelah bersalin.
- Tubektomi
Saluran telur diikat / dijepit / dipotong melalui operasi kecil.
* Segera meneteki/menyusui bayi dalam 30 menit setelah bersalin untuk mencegah pendarahan dan merangsang ASI cepat keluar.
* Teteki/susui bayi sesering mungkin dan setiap kali bayi menginginkan.
* Rawat bayi baru lahir dengan baik.
* Tanyakan ke bidan/dokter cara meneteki secara eksklusif dan merawat bayi baru lahir.
Periksa kesehatan ibu nifas ke bidan/dokter sedikitnya 3 kali selama masa nifas.
2.Bagaimana menjaga kesehatan ibu nifas?
* Makan makanan bergizi 1 piring lebih banyak dari sebelum hamil.
* Istirahat cukup supaya ibu sehat dan ASI keluar banyak.
* Minum 1 kapsul Vit A warna merah (200.000 SI) diminum segera setelah melahirkan, 1 kapsul Vit A warna merah kedua (200.000 SI) diminum pada hari berikutnya minimal 24 jam se-sudah kapsul pertama.
* Minum 1 tablet tambah darah setiap hari selama nifas.
* Jaga kebersihan alat kelamin, ganti pembalut setiap kali basah.
3. Apa saja tanda-tanda bahaya dan penyakit pada ibu nifas?
* Pendarahan lewat jalan lahir.
* Keluar cairan berbau dari jalan lahir.
* Demam lebih dari 2 hari.
* Bengkak di muka, tangan atau kaki. Mungkin dengan sakit kepala dan kejang-kejang.
* Payudara bengkak kemerahan disertai rasa sakit.
* Mengalami gangguan jiwa.
Suami atau keluarga segera membawa ibu nifas ke bidan/dokter jika ada salah satu tanda-tanda di atas. Suami perlu mendampingi ibu nifas.
4. Mengapa setelah bersalin ibu perlu ikut program keluarga berencana (KB)?
* Agar ibu punya waktu untuk menyusui dan merawat bayi, menjaga kesehatan ibu serta mengurus keluarga.
* Untuk mengatur agar jarak kehamilan tidak terlalu dekat, lebih dari 2 (dua) tahun.
Konsultasi ke bidan/dokter dalam memilih cara KB yang paling sesuai dengan kondisi suami-isteri. Masa nifas merupakan saat yang paling tepat untuk ber-KB.
5. Apa saja alat kontrasepsi/cara ber-KB?
Alat Kontrasepsi/cara ber-KB bagi suami
- Kondom
Dipasang pada alat kelamin suami setiap kali melakukan hubungan seksual.
- Vasektomi
Saluran sperma diikat/dipotong melalui operasi kecil
Alat Kontrasepsi/cara ber-KB bagi istri
- Pil
Diminum 1 pil setiap hari secara teratur dan terus-menerus.
Selama ibu meneteki / menyusui, minum pil KB khusus.
- Suntik
Disuntikkan pada pantat/bokong sebelah kanan/kiri setiap 1 atau 3 bulan sekali tergantung jenis suntikan.
- Implan
Dipasang di lengan atas ibu.
- Spiral
Dipasang di dalam rahim 2 hari atau 6-8 minggu setelah bersalin.
- Tubektomi
Saluran telur diikat / dijepit / dipotong melalui operasi kecil.
One more for the weekend ! HangZhou ZhongCe Rubber Co ,Ltd
In 1958 a LTD company was established in Hangzhou making rubber products - HangZhou ZhongCe Rubber Co ,Ltd.
I am not an expert - in 1958 there was already LTD companies existing in China ?
This is some "kind of advertisement" - enjoy:
I am not an expert - in 1958 there was already LTD companies existing in China ?
This is some "kind of advertisement" - enjoy:
Donald Tsang once again
So here is Donald Tsang once again talking about the civil servants etc.
By the way: The criticism was coming from Mr Wang Guangya the "Beijing watchdog for HK SAR & Macao". I can understand some of the complains of Mr Wang...but does your administration / civil servants give a good example to follow ? Think about it - its always easy to complain on the others - but better first check if your own house is under control.
By the way: The criticism was coming from Mr Wang Guangya the "Beijing watchdog for HK SAR & Macao". I can understand some of the complains of Mr Wang...but does your administration / civil servants give a good example to follow ? Think about it - its always easy to complain on the others - but better first check if your own house is under control.
Kubrick for your weekend !
You haven't watched a movie until you've watched Kubrick. Here an excellent cut of Kubricks movies. In perfect synch.
Have a nice weekend.
Have a nice weekend.
Gone fishin’—piloting community supported fisheries at Google
(Cross-posted on the Google Green Blog)
I've always loved the ocean—I was born in Shanghai, which means "upon the sea.” And as a chef, I'm always drawn to food that claims a spirit of place. After moving to California, near Half Moon Bay, I began visiting the docks to buy seafood, and got to know the fishermen.
Over time, it became evident to me that this part of our food supply is broken: many consumers purchase stale, unsustainably-raised fish from chain grocers. Meanwhile, fishermen often sell their diminishing catch to wholesalers at a very low profit, meaning their livelihoods are no longer sustained by their catch. There’s also the environmental factor to consider: Overfishing and illegal practices cause worldwide decline in ocean wildlife populations and wreak havoc on underwater habitats—not to mention the carbon footprint of transporting seafood far from its origin.
Google’s chefs have long been committed to sourcing food for our cafes as locally, seasonally and organically as possible. And in our Mountain View headquarters, many employees cook with the same ingredients at home thanks to on-site Community Supported Agriculture (CSA) programs. When I joined the team as an executive chef in Mountain View, I wanted to make a difference in our purchasing program for seafood. For the five years leading up to then, I wrote a column for the San Francisco Chronicle called “Seafood by the Season,” and I knew it could be done. In early 2010, we began a push to apply the most rigorous standards to our seafood-buying practices, and respond to the in-the-moment fluctuations of the catch from small, independent fishermen.
Things took off from there. My colleague Quentin Topping dreamed of providing the same high-quality seafood we serve in our cafes for Googlers to take home to their families. That idea became the Google Community Supported Fishery (CSF), which we launched in May 2011. In this program, Googlers sign up to purchase a weekly supply of local, sustainable seafood, supplied through a partnership with the Half Moon Bay (HMB) Fisherman’s Association.
We tend to think on a massive scale at Google—whether it’s how to deliver instant search results around the globe or help thousands of small businesses get online—but when it comes to feeding our employees at work and at home, it really comes down to a local touch. Knowing where our seafood, meat and produce come from, as well as knowing how they’re raised, farmed or harvested, makes all the difference in the on-the-ground work of sustainability. We see many bright spots ahead for our Community Supported Agriculture and Fishery programs, such as expansion to other offices and adding a grass-fed beef and pasture-raised poultry program. It’s exciting to work someplace where we can think big and local.
We know of two CSFs in the Bay Area. The Half Moon Bay Fishermen’s Association supplies only Google at the moment, but will soon add public drop-off sites—keep posted by visiting Farmigo.com. The other is CSea out of Bodega Bay. If you live elsewhere, we hope you’ll consider stepping up to create one in your area.
And even if you don’t live near the ocean or have direct access to fresh-caught seafood, the choices you make about what fish to purchase or order in restaurants can make a real difference. You may want to consider following the guidelines that we used for our Google Green Seafood policy: Whenever possible, purchase species caught locally and in-season, by small, independent fisher-families, using environmentally-responsible methods. We think it’s important to be responsive to the fluctuations of catch too, and source from fisheries that enforce catch limits or are guided by ecosystem-based management programs. As for us, we’ll continue to research and source responsibly managed farmed seafood, and always keep transparency and Googler health at the center of our program.
Posted by Liv Wu, Executive Chef
I've always loved the ocean—I was born in Shanghai, which means "upon the sea.” And as a chef, I'm always drawn to food that claims a spirit of place. After moving to California, near Half Moon Bay, I began visiting the docks to buy seafood, and got to know the fishermen.
Over time, it became evident to me that this part of our food supply is broken: many consumers purchase stale, unsustainably-raised fish from chain grocers. Meanwhile, fishermen often sell their diminishing catch to wholesalers at a very low profit, meaning their livelihoods are no longer sustained by their catch. There’s also the environmental factor to consider: Overfishing and illegal practices cause worldwide decline in ocean wildlife populations and wreak havoc on underwater habitats—not to mention the carbon footprint of transporting seafood far from its origin.
Google’s chefs have long been committed to sourcing food for our cafes as locally, seasonally and organically as possible. And in our Mountain View headquarters, many employees cook with the same ingredients at home thanks to on-site Community Supported Agriculture (CSA) programs. When I joined the team as an executive chef in Mountain View, I wanted to make a difference in our purchasing program for seafood. For the five years leading up to then, I wrote a column for the San Francisco Chronicle called “Seafood by the Season,” and I knew it could be done. In early 2010, we began a push to apply the most rigorous standards to our seafood-buying practices, and respond to the in-the-moment fluctuations of the catch from small, independent fishermen.
Things took off from there. My colleague Quentin Topping dreamed of providing the same high-quality seafood we serve in our cafes for Googlers to take home to their families. That idea became the Google Community Supported Fishery (CSF), which we launched in May 2011. In this program, Googlers sign up to purchase a weekly supply of local, sustainable seafood, supplied through a partnership with the Half Moon Bay (HMB) Fisherman’s Association.
The Google Culinary team on a visit with fishermen in Half Moon Bay, Calif.—Quentin and I are the second and third from the left, in black.
We tend to think on a massive scale at Google—whether it’s how to deliver instant search results around the globe or help thousands of small businesses get online—but when it comes to feeding our employees at work and at home, it really comes down to a local touch. Knowing where our seafood, meat and produce come from, as well as knowing how they’re raised, farmed or harvested, makes all the difference in the on-the-ground work of sustainability. We see many bright spots ahead for our Community Supported Agriculture and Fishery programs, such as expansion to other offices and adding a grass-fed beef and pasture-raised poultry program. It’s exciting to work someplace where we can think big and local.
We know of two CSFs in the Bay Area. The Half Moon Bay Fishermen’s Association supplies only Google at the moment, but will soon add public drop-off sites—keep posted by visiting Farmigo.com. The other is CSea out of Bodega Bay. If you live elsewhere, we hope you’ll consider stepping up to create one in your area.
And even if you don’t live near the ocean or have direct access to fresh-caught seafood, the choices you make about what fish to purchase or order in restaurants can make a real difference. You may want to consider following the guidelines that we used for our Google Green Seafood policy: Whenever possible, purchase species caught locally and in-season, by small, independent fisher-families, using environmentally-responsible methods. We think it’s important to be responsive to the fluctuations of catch too, and source from fisheries that enforce catch limits or are guided by ecosystem-based management programs. As for us, we’ll continue to research and source responsibly managed farmed seafood, and always keep transparency and Googler health at the center of our program.
Posted by Liv Wu, Executive Chef
Subscribe to:
Posts (Atom)




